62 tahun timnas meraih medali perunggu Asian Games yang sulit diulangi

9

Tepat hari ini 62 tahun silam, tim nasional sepak bola Indonesia sempat dijuluki sebagai Macan Asia setelah berhasil merebut medali perunggu dalam ajang Asian Games 1958 di Tokyo, Jepang.

Mengalahkan India 4-1 dalam perebutan tempat ketiga, membuat prestasi ini menjadi yang tertinggi yang bisa dicapai Indonesia dan bertahan hingga dewasa ini, bahkan sulit untuk diulangi.

Pelatih Indonesia saat itu, Antun Toni Pogacnik, membuat perubahan besar-besaran di tubuh timnas. Ia melakukan peremajaan dalam skuatnya. Nama-nama seperti Ramang, Djamiaat Dhalhaar, hingga Aang Witarsa terpinggirkan.

Sebagai pengganti, di lini depan dihuni pemain dengan rerata umur 23 seperti Wowo Sunaryo, Bakir, dan Suryadi. Sementara di posisi penjaga gawang tetap diisi Maulwi Saelan, sang pengawal Bung Karno.

Pada babak penyisihan, Indonesia tergabung di Grup B bersama Myanmar dan India. Maulwi Saelan dan kawan-kawan sukses menjadi juara grup setelah menumbangkan Myanmar 4-2 dan India 2-1.

Di babak perempat final, timnas Indonesia telah ditunggu tim yang tak terlalu diperhitungkan, Filipina. Benar saja kedigdayaan Indonesia tak kuasa dibendung dan mereka mengakhiri laga dengan skor 5-2.

Memasuki Semifinal, Indonesia akhirnya mendapatkan lawan tangguh yakni Republic of China (yang sekarang menjadi Taiwan), sekaligus kandidat kuat juara saat itu. Meski begitu, Indonesia mampu mengimbangi perlawanan Taiwan dan hanya kalah dengan skor tipis 1-0.

Harapan untuk mendapat medali emas pupus sudah, satu-satunya yang bisa dibawa pulang hanya perunggu. Di babak perebutan tempat ketiga, Indonesia kembali bertemu dengan India yang pada babak semifinal kalah atas Korea Selatan 3-1.

Pengalaman saat bertemu di fase grup, membuat pasukan Toni Pogacnik ini bisa sedikit jumawa. India kembali tak berdaya di hadapan Indonesia dan harus mengakui kekalahan 4-1.

Laman: 1 2 3

You might also like
close