in , , ,

Hidup di Kandang Sapi, Warga Miskin di Salatiga Ini Belum Dapat Bansos Covid-19

Bird.Petir.co, SALATIGA – Satu keluarga di Salatiga yang hidup miskin di gubuk reyot bekas kandang sapi mengaku belum mendapat bansos Covid-19. Warga yang tinggal di bekas kandang sapi di Salatiga bersama keluarganya itu bernama Sugiman, 57.

Gubuk semipermanen berukuran 6×3 meter itu dihuni bersama istrinya, Ika, 32, dan tiga orang anaknya. Mereka menjadikan gubuk bekas kandang sapi itu sebagai tempat berlindung.

Sudah enam tahun lebih Sugiman tinggal di gubuk yang terletak di tengah perkebunan kayu sengon di RT 001/RW 005, Gedongan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga itu.

Sugiman mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia hanya buruh serabutan. Sementara, istrinya kerap menjadi pembantu rumah tangga dengan upah Rp300.000 per bulan.

“Yang paling susah disini itu air karena harus mengambil dengan jalan kaki sekitar 300 meter. Itu sebenarnya tandon warga Nanggulan untuk menyirami tanaman, tapi kami ambil buat keperluan sehari-hari,” terang Sugiman.

Tak Dapat Bansos

Ironisnya, meski tidak berpenghasilan tetap dan tinggal di bekas kandang sapi, Sugiman tidak pernah mendapat bantuan pemerintah. Terlebih pada masa pandemi Covid-19. Dia belum pernah menerima bantuan apa pun dari pemerintah.

“Padahal, sekarang penghasilan menurun. Jarang sekali dapat order sejak pandemi corona,” jelasnya.

Dia mengaku pernah menanyakan kepada perangkat desa kenapa tidak dapat bantuan dari pemerintah. Namun, pemerintah desa berdalih warga Salatiga yang tinggal di kandang sapi itu tidak memiliki kartu keluarga yang sama dengan tempat tinggalnya.

“Jadi enggak dapat. Termasuk bantuan untuk warga yang terdampak corona, saya juga enggak dapat,” aku Sugiman.

Tinggal di Bekas Kandang Sapi

Sugiman mengatakan gubuk yang ditempati itu merupakan bekas kandang sapi. Ia bersama keluarganya diizinkan tinggal di situ oleh pemilik lahan, Sukirman.

“Saya juga ditugasi menjaga kebun milik Pak Sukirman. Di sini sudah enam tahun,” ujar pria yang akrab disapa Giman itu saat disambangi Semarangpos.com, Selasa (9/6/2020).

Sebelum tinggal di gubuk itu, Giman tinggal di RT 008/RW 003 Gedongan. Namun karena ada masalah keluarga, rumahnya dijual hingga dia pindah ke daerah Noborejo.

Tak lama kemudian, dia kembali ke Gedongan dan menempati bekas kandang sapi yang berada di lahan milik Sukirman.

Saat pertama ditempati, kata Sugiman, tempat tinggalnya tidak berdinding. Perlahan, dia meminta material kepada beberapa tetangga dan mengais di tempat pembuangan.

Saat ini, tempat tinggalnya sudah memiliki tembok setinggi 50 sentimeter dan dindingnya dari anyaman bambu. Gubuk berukuran 3×6 meter terbagi atas dua sekat, satu untuk dapur dan amben, dan ruang dalam untuk tidur lima orang.

“Awalnya di sini enggak ada penerangan. Kami lalu memasang listrik. Tapi dicabut, hingga permanen saat ini. Setelah ada bantuan dari pak Sukirman,” ujar Giman.

Giman mengaku awal tinggal di gubuk tersebut ada ular sering masuk ke dalam. Namun, lama kehidupan mereka tidak lagi diganggu binatang melata tersebut.

Sumber : solopos.com

Dua Polisi Penyiram Novel Baswedan Dituntut 1 Tahun Penjara

Kisah Sedih Anak SD Beli HP dari Hasil Bongkar Celengan Demi Sekolah Online