in , ,

Mengenal Remdesivir, Obat Gilead yang Manjur Lawan Corona

Harapan segera musnahnya corona dari muka bumi muncul setelah Amerika Serikat melaporkan adanya obat yang efektif menyembuhkan pasien corona (Covid-19) dalam waktu singkat. Obat tersebut diproduksi oleh Gilead Science dan sebelumnya diperuntukkan guna menangani pasien Ebola.

Dalam penelitian Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS sekitar 50% pasien yang diobati meninggalkan rumah sakit dalam dua minggu. “Data menunjukkan remdesivir memiliki dampak positif yang jelas dan signifikan dalam mengurangi waktu pemulihan,” ujar Penasehat Kesehatan Gedung Putih Anthony Fauci.

Ya, redemsivir adalah nama obat yang diproduksi perusahaan AS tersebut. Obat ini dikatakan dapat memblokir virus dan memunculkan fakta bahwa COVID-19 bisa diobati.

Badan Pengawas dan Makanan (FDA) AS pun telah secara resmi telah memberi izin penggunaan remdesivir, obat yang diproduksi Gilead Science, untuk mengobati corona. Meski begitu Uni Eropa mengaku belum akan mengizinkan penggunaan obat ini karena menunggu penelitian lebih lanjut, kecuali darurat oleh para dokter.

Lalu apa sebenarnya remdesivir ini?

Remdesivir sebenarnya merupakan obat antivirus. Ia pertama kali dikembangkan untuk mengatasi penyebaran virus Ebola, yang muncul Afrika tahun 2016 lalu.

Di 2019, studi soal remdesivir dihentikan. Pasalnya, obat ini tidak memiliki pengaruh pada pasien. Namun di 2020, obat ini kembali diuji melawan SARS-Cov 2 nama virus penyebab COVID-19.

Dari pengujian NIAID yang melibatkan 1.000 orang, ditemukan fakta bahwa remdesivir mampu mengurangi gangguan pernapasan lebih cepat dibanding obat lainnya. Saat treatment dilakukan, plasebo menjadi obat alternatif lain.

Pengguna remdesivir ternyata lebih cepat sembuh dibanding plasebo. Sebanyak 50% pasien bisa ke luar rumah sakit dalam waktu 11 hari, sementara plasebo 15 hari.

Angka kematian juga lebih rendah. Angka kematian kasus pada pengguna remdesivir adalah 8,0% sedangkan plasebo 11,7%.

Remdesivir sebenarnya adalah obat keras. ia bekerja dengan memasukkan dirinya ke dalam genom virus. Yang pada akhirnya mengganggu proses replikasi dari virus tersebut.

Dengan membatasi replikasi virus, peradangan akibat Covid-19 bisa dikurangi. Pemakaian ventilator juga bisa disetop.

Masalahnya remdesivir sangat rumit diproduksi. Alih-alih berbentuk pil, ia diberikan melalui suntikan.

Meski peneliti AS memiliki hasil baik terhadap remdesivir, namun penelitian yang diterbitkan The Lancet menyebutkan berbeda. Kajian ilmiah itu menyebut remdesivir tak memiliki manfaat sama sekali pada studi di 200 orang di China.

Namun sebagian ahli statistik berpendapat jumlah dalam uji coba China terlalu sedikit. “Terlalu kecil untuk menarik kesimpulan,” kata seorang ahli statistik media Inggris, Stephen Evans.

Sementara itu, CEO Gilead berharap remdesivir bisa diproduksi hingga satu juta di 2021. Perusahaan bakal menggandeng lembaga global lain untuk itu.

Sumber: cnbc indonesia

Inilah Kota ‘Suci’ Islam ke-Empat di Dunia: Kariouan

Di Melbourne ada dua Masjid Boleh Gemakan Kumandang Adzan